SURABAYA | SURYA Online - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menolak kebijakan pemerintah pusat soal moratorium (penundaan) calon pegawai negeri sipil (CPNS) baru tahun 2012, dengan menghentikan penerimaan CPNS selama 16 bulan.
Kepala Badan Kepegawaian dan Diklat (BKD) Kota Surabaya Yayuk Eko Agustin mengatakan, alasan penolakan karena kebutuhan PNS di Surabaya cukup tinggi. Selain itu, APBD yang dipakai untuk menggaji PNS dirasakan tidak akan mengurangi jatah pembangunan.
“Kabar terakhir, moratorium diberikan pada daerah yang memang jumlah pegawainya banyak dan APBD-nya kecil. Selain itu juga untuk tenaga medis, guru dan tenaga teknis masih diperbolehkan. Artinya pemkot masih memiliki peluang, untuk mendapatkan CPNS baru,” katanya.
Menurut dia, pihaknya tetap ngotot menuntut pemerintah pusat mengabulkan dengan alasan kebutuhan PNS di lingkungan pemkot Surabaya memang cukup tinggi karena masyarakat yang dilayani mencapai 2,5 juta orang.
Yayuk mengatakan jumlah pegawai di Surabaya sekarang ini hanya 19.700 orang, dan itu berkurang karena tahun sebelumnya mencapai 20.000 pegawai. Jumlah itu tidak sebanding dengan banyaknya masyarakat yang harus dilayani, apalagi setiap tahunnya sedikitnya 800 PNS Pemkot pensiun.
Akibat tidak seimbangnya antara jumlah pegawai dengan jumlah penduduk, maka satu pegawai melayani ratusan orang. “Sekarang lihat saja di kantor kelurahan, pegawainya sedikit sehingga pegawai yang ada harus pontang-panting mengurus berbagai persoalan di sana,” katanya.
Untuk itu, lanjut dia, pihaknya pada tahun 2012 mengajukan kuota 1.700 CPNS yang terdiri dari tenaga pendidik khususnya guru SD, tenaga kesehatan terutama dokter spesialis dan tenaga teknis.
“Banyak sekolah yang kekurangan tenaga guru sehingga banyak guru yang merangkap banyak mata pelajaran. Demikian juga dengan tenaga medis yang dirasakan sangat kurang sehingga pemkot terpaksa mengontrak tenaga medis. Tentu kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut,” jelasnya.
sumber: surya.co.id
LES PRIVAT SBY ADALAH SEBUAH LEMBAGA BIMBINGAN BELAJAR SUPRAUNO YANG BERGERAK DALAM JASA PENDIDIKAN YAKNI KURSUS PRIVAT DAN KURSUS KELAS.
Minggu, 02 Oktober 2011
Menyoal Libur Panjang Guru
Lubis Grafura, S.Pd
Guru SMKN 1 Nglegok
lubisgrafura@ymail.com
Beberapa kali, saya mendapati beberapa orang mengeluhkan betapa enaknya menjadi seorang guru, terutama yang tercatat sebagai PNS. Gaji penuh tetapi banyak libur. Memang, sepintas kalau kita perhatikan pandangan di atas memang tidak salah. Pandangan itu sah-sah saja, tetapi alangkah bijaksananya kalau kita mau melihat lebih dalam permasalahan yang ada.
Permasalahan ini memang sederhana, namun jika tidak disikapi dengan baik akan menimbulkan kesenjangan. Ujungnya, adalah saling iri dan mencari kesalahan. Alhasil, bukan etos kerja yang meningkat tetapi membuang waktu karena mempermasalahkan sesuatu yang tidak pada tempatnya.
Seorang guru, setidaknya harus menguasai tiga kompetensi. Pertama, kompetensi pribadi, yaitu sikap kepribadian yang mantap dan matang sehingga bisa menjadi suriteladan yang baik. Kedua, kompetensi profesi, yaitu menyangkut berbagai pengetahuan profesi guru. Ketiga, kompetensi yang berkaitan dengan kemampuan menempatkan diri di tengah-tengah masyarakat.
Kita tidak akan membahas kompetensi guru yang pertama dan ketiga, namun kita akan membahas kompetensi yang kedua, yaitu kompetensi profesi. Kompetensi ini setidaknya meliputi dua hal, yaitu hal yang berkaitan dengan administrasi mengajar dan tanggung jawab moral peserta didik.
Hal yang berkaitan dengan administrasi mengajar sangatlah banyak. Misalnya, seorang guru harus membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tiap kelas selama satu tahun, program semester, program tahunan, analisis nilai, membuat soal, koreksi, membuat rapot, jurnal mengajar, dan sebagainya. Tugas-tugas tersebut tidak mudah dan perlu banyak waktu, tenaga, bahkan (terkadang) juga biaya.
Selain mengurusi benda mati, seperti administrasi mengajar, seorang guru juga harus mengurusi moral anak didik. Bukan tugas yang mudah. Setiap guru harus mengajarkan dan menjadi suriteladan bagaimana peserta didiknya mampu berlaku sesuai tuntutan. Padahal moral peserta didik jika dibebankan pada guru saja, tentu itu tidak sepenuhnya mungkin dilakukan.
Tugas menanamkan moral kepada peserta didik memang tugas guru. Namun demikian perlu kita ketahui bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya semata-mata peran guru. Justru orang tualah yang memiliki andil yang besar terhadap keberhasilannya.
Peran orang tua dalam hal kesadaran pendidikan terhadap anak sangat mutlak diperlukan. Sebab, pembentukan karakter yang pertama kali terjadi adalah di dalam rumah. Sekolahan sudah “terima jadi” karakter anak yang dibentuk dari rumah. Mengubah karakter inilah yang lebih sulit daripada membentuknya.
Tak heran, jika Muhammad Suwaid dalam bukunya Mendidik Anak Bersama Nabi, mencantumkan syair sebagai berikut: anak-anak kita akan tumbuh/menurut apa yang dibiasakan oleh orang tuanya/anak tidaklah menjadi tercela oleh akalnya/ namun, orang-orang dekatnyalah yang membuatnya hina.
Liburan untuk Mengembangkan Kompetensi
Selama liburan, guru pun terkadang masih dibebani dengan tugas yang begitu banyak, misalnya koreksian. Bayangkan saja, berapa waktu yang digunakan seorang guru untuk mengoreksi jika ia mengajar 12 kelas dan tiap kelas rata-rata terdiri dari 38 peserta didik. Belum lagi analisis nilai yang harus dilakukan per peserta didik dari tiap kali ulangan harian.
Selama liburan, seorang guru yang baik seharusnya memanfaatkan sebagian liburannya untuk mengembangkan kompetensinya. Hal ini bisa dilakukan, antara lain, dengan cara mencari media pembelajaran atau mengikuti seminar-seminar yang ada.
Dengan mengetahui begitu banyak tugas yang harus diemban seorang guru, maka pantaslah mereka disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Jika demikian, apakah terlalu berlebihan jika guru memiliki libur yang sedikit lebih panjang?
sumber: surya.co.id
Guru SMKN 1 Nglegok
lubisgrafura@ymail.com
Beberapa kali, saya mendapati beberapa orang mengeluhkan betapa enaknya menjadi seorang guru, terutama yang tercatat sebagai PNS. Gaji penuh tetapi banyak libur. Memang, sepintas kalau kita perhatikan pandangan di atas memang tidak salah. Pandangan itu sah-sah saja, tetapi alangkah bijaksananya kalau kita mau melihat lebih dalam permasalahan yang ada.
Permasalahan ini memang sederhana, namun jika tidak disikapi dengan baik akan menimbulkan kesenjangan. Ujungnya, adalah saling iri dan mencari kesalahan. Alhasil, bukan etos kerja yang meningkat tetapi membuang waktu karena mempermasalahkan sesuatu yang tidak pada tempatnya.
Seorang guru, setidaknya harus menguasai tiga kompetensi. Pertama, kompetensi pribadi, yaitu sikap kepribadian yang mantap dan matang sehingga bisa menjadi suriteladan yang baik. Kedua, kompetensi profesi, yaitu menyangkut berbagai pengetahuan profesi guru. Ketiga, kompetensi yang berkaitan dengan kemampuan menempatkan diri di tengah-tengah masyarakat.
Kita tidak akan membahas kompetensi guru yang pertama dan ketiga, namun kita akan membahas kompetensi yang kedua, yaitu kompetensi profesi. Kompetensi ini setidaknya meliputi dua hal, yaitu hal yang berkaitan dengan administrasi mengajar dan tanggung jawab moral peserta didik.
Hal yang berkaitan dengan administrasi mengajar sangatlah banyak. Misalnya, seorang guru harus membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tiap kelas selama satu tahun, program semester, program tahunan, analisis nilai, membuat soal, koreksi, membuat rapot, jurnal mengajar, dan sebagainya. Tugas-tugas tersebut tidak mudah dan perlu banyak waktu, tenaga, bahkan (terkadang) juga biaya.
Selain mengurusi benda mati, seperti administrasi mengajar, seorang guru juga harus mengurusi moral anak didik. Bukan tugas yang mudah. Setiap guru harus mengajarkan dan menjadi suriteladan bagaimana peserta didiknya mampu berlaku sesuai tuntutan. Padahal moral peserta didik jika dibebankan pada guru saja, tentu itu tidak sepenuhnya mungkin dilakukan.
Tugas menanamkan moral kepada peserta didik memang tugas guru. Namun demikian perlu kita ketahui bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya semata-mata peran guru. Justru orang tualah yang memiliki andil yang besar terhadap keberhasilannya.
Peran orang tua dalam hal kesadaran pendidikan terhadap anak sangat mutlak diperlukan. Sebab, pembentukan karakter yang pertama kali terjadi adalah di dalam rumah. Sekolahan sudah “terima jadi” karakter anak yang dibentuk dari rumah. Mengubah karakter inilah yang lebih sulit daripada membentuknya.
Tak heran, jika Muhammad Suwaid dalam bukunya Mendidik Anak Bersama Nabi, mencantumkan syair sebagai berikut: anak-anak kita akan tumbuh/menurut apa yang dibiasakan oleh orang tuanya/anak tidaklah menjadi tercela oleh akalnya/ namun, orang-orang dekatnyalah yang membuatnya hina.
Liburan untuk Mengembangkan Kompetensi
Selama liburan, guru pun terkadang masih dibebani dengan tugas yang begitu banyak, misalnya koreksian. Bayangkan saja, berapa waktu yang digunakan seorang guru untuk mengoreksi jika ia mengajar 12 kelas dan tiap kelas rata-rata terdiri dari 38 peserta didik. Belum lagi analisis nilai yang harus dilakukan per peserta didik dari tiap kali ulangan harian.
Selama liburan, seorang guru yang baik seharusnya memanfaatkan sebagian liburannya untuk mengembangkan kompetensinya. Hal ini bisa dilakukan, antara lain, dengan cara mencari media pembelajaran atau mengikuti seminar-seminar yang ada.
Dengan mengetahui begitu banyak tugas yang harus diemban seorang guru, maka pantaslah mereka disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Jika demikian, apakah terlalu berlebihan jika guru memiliki libur yang sedikit lebih panjang?
sumber: surya.co.id
Wajib Belajar Nasional, Antara Prioritas dan Kenyataan
Eni Khoiriyah,S.Pd
Guru di SMKN 1 Glagah Banyuwangi
enikhoiriyah30@yahoo.co.id
Dari segala prioritas yang telah diungkapkan oleh para politisi dan pemimpin bangsa, hampir semua menjadikan pendidikan sebagai skala prioritas utama yang harus diperjuangkan. Kebanyakan mereka (politisi dan Pemimpin bangsa), menyadari bahwa pendidikan merupakan modal utama dalam menciptakan negara yang sejahtera (welfare state), pendidikan warga negara merupakan kunci pertumbuhan dan pembangunan bagi bangsa dan negara.
Ada beberapa persoalan yang mendasar mengenai pendidikan nasional Indonesia, diantaranya adalah masih banyaknya anak dari keluarga miskin yang keluar sekolah lebih dini, persiapan dan kehadiran tenaga pengajar yang masih kurang (Bank dunia,2004) serta pemeliharaan infrastruktur sekolah yang tidak dilakukan secara berkala, merupakan beberapa persoalan yang harus segera diatasi. Kalau persoalan yang mendasar seperti sarana dan prasarana pendidikan tersebut tidak segera diatasi dengan benar, sulit mengharapkan pendidikan nasional kedepan akan menghasilkan lulusan yang berkualitas.
Ketika beberapa negara lain seperti Thailand yang sudah memperluas wajib belajar menjadi 12 tahun dan mempersiapkan kebijakan wajib belajar 15 tahun, sementara Malaysia sudah menerapkan angka partisipasi di Universitas mencapai 40 persen pada tahun 2010, bagaimana dengan Indonesia?.Wajib belajar 9 tahun saja masih jauh dari harapan, belum lagi persoalan distribusi anggaran negara APBN 20 persen untuk pendidikan yang belum bisa diimplementasikan dengan baik, menambah jauh ketertinggalan pendidikan Indonesia dibandingkan negara tetangga apalagi negara-negara maju lainnya.
Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam ketentuan umum, dengan jelas menerangkan bahwa yang dimaksud Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan pancasila dan Undang undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap kebutuhan perubahan zaman. Sedang yang dimaksud wajib belajar adalah program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga negara Indonesia atas tanggung jawab pemerintah dan Pemerintah Daerah. Sekarang pertanyaannya adalah, sudahkan pendidikan nasional kita berdasarkan pancasila dan UUD 1945? Apakah pemerintah dan pemerintah daerah sudah bertanggung jawab terhadap wajib belajar nasional? Apakah pendidikan kita sudah tanggap terhadap kebutuhan zaman? Dan beberapa pertanyaan kritis lainnya.
Kalau kita perhatikan beberapa kutipan di media massa, kenyataan bahwa wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan pemerintah jauh dari apa yang diharapkan. Beberapa indikasi menunjukkan masih tingginya angka keluar sekolah dini bagi siswa SD dan SMP di beberapa daerah, serta kurang jelasnya kurikulum yang mengacu pada nilai agama dan kebudayaan, baik kebudayaan lokal maupun kebudayaan nasional, yang selalu saja menimbulkan polemik berkepanjangan dan tidak jelas solusinya. Belum lagi ditambah keluaran (output) pendidikan yang tidak sesuai dengan permintaan pasar (Kebutuhan zaman). Upaya untuk memperbanyak komposisi, keluaran Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), salah satu alternatif untuk memecahkan persoalan keluaran yang sesuai dengan kebutuhan pasar, lantas bagaimana dengan pendanaannya? Belum lagi persoalan tenaga pengajar, terutama di daerah terpencil, yang tidak sesuai dengan kapabilitas dan bidang studinya, merupakan beberapa catatan yang harus segera diselesaikan oleh negara ini.
Contoh persoalan yang lebih ekstrem bisa digambarkan bagaimana, masih ada beberapa komponen pendididkan di daerah yang menolak adanya pendidikan gratis yang dilakukan oleh pemerintah maupun pemerintah daerah, sebuah argumentasi yang sangat dangkal, dan tidak logis, yang hanya didasarkan pada kepentingan ekonomis dan politis sesaat. Yang jelas, bangsa dan negara ini harus terus berjuang keras untuk memajukan pendidikan, apapun tantangannya, Semua komponen yang perduli tentang pendidikan harus bahu membahu untuk mendorong, agar pendidikan menuju ke arah yang jelas, dan benar. Agar pendidikan nasional kita tidak semakin tertinggal jauh dengan negara-negara lainnya.
sumber: surya.co.id
Guru di SMKN 1 Glagah Banyuwangi
enikhoiriyah30@yahoo.co.id
Dari segala prioritas yang telah diungkapkan oleh para politisi dan pemimpin bangsa, hampir semua menjadikan pendidikan sebagai skala prioritas utama yang harus diperjuangkan. Kebanyakan mereka (politisi dan Pemimpin bangsa), menyadari bahwa pendidikan merupakan modal utama dalam menciptakan negara yang sejahtera (welfare state), pendidikan warga negara merupakan kunci pertumbuhan dan pembangunan bagi bangsa dan negara.
Ada beberapa persoalan yang mendasar mengenai pendidikan nasional Indonesia, diantaranya adalah masih banyaknya anak dari keluarga miskin yang keluar sekolah lebih dini, persiapan dan kehadiran tenaga pengajar yang masih kurang (Bank dunia,2004) serta pemeliharaan infrastruktur sekolah yang tidak dilakukan secara berkala, merupakan beberapa persoalan yang harus segera diatasi. Kalau persoalan yang mendasar seperti sarana dan prasarana pendidikan tersebut tidak segera diatasi dengan benar, sulit mengharapkan pendidikan nasional kedepan akan menghasilkan lulusan yang berkualitas.
Ketika beberapa negara lain seperti Thailand yang sudah memperluas wajib belajar menjadi 12 tahun dan mempersiapkan kebijakan wajib belajar 15 tahun, sementara Malaysia sudah menerapkan angka partisipasi di Universitas mencapai 40 persen pada tahun 2010, bagaimana dengan Indonesia?.Wajib belajar 9 tahun saja masih jauh dari harapan, belum lagi persoalan distribusi anggaran negara APBN 20 persen untuk pendidikan yang belum bisa diimplementasikan dengan baik, menambah jauh ketertinggalan pendidikan Indonesia dibandingkan negara tetangga apalagi negara-negara maju lainnya.
Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam ketentuan umum, dengan jelas menerangkan bahwa yang dimaksud Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan pancasila dan Undang undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap kebutuhan perubahan zaman. Sedang yang dimaksud wajib belajar adalah program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga negara Indonesia atas tanggung jawab pemerintah dan Pemerintah Daerah. Sekarang pertanyaannya adalah, sudahkan pendidikan nasional kita berdasarkan pancasila dan UUD 1945? Apakah pemerintah dan pemerintah daerah sudah bertanggung jawab terhadap wajib belajar nasional? Apakah pendidikan kita sudah tanggap terhadap kebutuhan zaman? Dan beberapa pertanyaan kritis lainnya.
Kalau kita perhatikan beberapa kutipan di media massa, kenyataan bahwa wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan pemerintah jauh dari apa yang diharapkan. Beberapa indikasi menunjukkan masih tingginya angka keluar sekolah dini bagi siswa SD dan SMP di beberapa daerah, serta kurang jelasnya kurikulum yang mengacu pada nilai agama dan kebudayaan, baik kebudayaan lokal maupun kebudayaan nasional, yang selalu saja menimbulkan polemik berkepanjangan dan tidak jelas solusinya. Belum lagi ditambah keluaran (output) pendidikan yang tidak sesuai dengan permintaan pasar (Kebutuhan zaman). Upaya untuk memperbanyak komposisi, keluaran Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), salah satu alternatif untuk memecahkan persoalan keluaran yang sesuai dengan kebutuhan pasar, lantas bagaimana dengan pendanaannya? Belum lagi persoalan tenaga pengajar, terutama di daerah terpencil, yang tidak sesuai dengan kapabilitas dan bidang studinya, merupakan beberapa catatan yang harus segera diselesaikan oleh negara ini.
Contoh persoalan yang lebih ekstrem bisa digambarkan bagaimana, masih ada beberapa komponen pendididkan di daerah yang menolak adanya pendidikan gratis yang dilakukan oleh pemerintah maupun pemerintah daerah, sebuah argumentasi yang sangat dangkal, dan tidak logis, yang hanya didasarkan pada kepentingan ekonomis dan politis sesaat. Yang jelas, bangsa dan negara ini harus terus berjuang keras untuk memajukan pendidikan, apapun tantangannya, Semua komponen yang perduli tentang pendidikan harus bahu membahu untuk mendorong, agar pendidikan menuju ke arah yang jelas, dan benar. Agar pendidikan nasional kita tidak semakin tertinggal jauh dengan negara-negara lainnya.
sumber: surya.co.id
Internet Ajarkan Karakter dan Pornografi
SURABAYA--MICOM: Pakar teknologi informasi Dr Onno W Purbo menyatakan bahwa internet mengajarkan pendidikan karakter dan sekaligus pornografi, karena itu pengenalan karakter internet sangat penting.
"Internet itu memaksa orang menjadi jujur, karena internet itu sadis, sebab kalau ada orang yang tidak jujur hanya satu kali, maka ribuan atau jutaan orang akan tahu sehingga namanya akan hancur," katanya di Surabaya.
Menurut Onno W Purbo yang alumni ITB itu, internet mengajarkan orang menjadi baik secara terpaksa, sehingga orang yang baik dan ikhlas akan sangat mendapat simpati.
"Karena itu, interaksi dalam dunia internet itu ditentukan sejauh mana kita bermanfaat bagi orang lain. Semakin kita bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang, maka kita akan semakin dipercaya. Kalau dipercaya, maka rezeki akan mudah datang. Buktinya, ya saya sendiri," katanya.
Namun, kata penggagas RT/RW.Net dan WikiBelajar itu, internet juga mengajarkan keburukan yakni pornografi, terorisme, judi, dan sejenisnya. Bahkan, situs porno di dunia saat ini mencapai 10 juta situs dengan satu miliar halaman.
"Untuk menangkalnya tidak mungkin hanya dengan teknologi, karena teknologi juga terbatas. Jadi, kalau ada yang bilang mampu memblokir situs porno, saya kira itu bohong, karena teknologi itu terbatas," katanya.
Bagi Onno yang sudah mengajar TI pada 33 negara berkembang itu, cara terbaik untuk menangkal hal-hal negatif dalam internet seperti pornografi adalah berteknologi, tapi juga beriman dan bertakwa.
Penulis puluhan buku tentang TI itu, menjelaskan, dirinya juga merilis teknik memblokir situs porno dalam WikiBelajar, internet sehat agar tidak mudah tertipu, cara membuat sentra Telkom, Open BTS, perempuan melek TI, dan sebagainya.
"Tapi, teknik sederhana memblokir situs porno itu juga memiliki keterbatasan, karena teknologi pemblokiran yang canggih itu pun terbatas. Yang terbaik adalah menjadi baik dengan internet dan berinternet dengan imtak (iman dan takwa)," katanya. (Ant/X-12)
SUMBER: MEDIAINDONESIA.COM
"Internet itu memaksa orang menjadi jujur, karena internet itu sadis, sebab kalau ada orang yang tidak jujur hanya satu kali, maka ribuan atau jutaan orang akan tahu sehingga namanya akan hancur," katanya di Surabaya.
Menurut Onno W Purbo yang alumni ITB itu, internet mengajarkan orang menjadi baik secara terpaksa, sehingga orang yang baik dan ikhlas akan sangat mendapat simpati.
"Karena itu, interaksi dalam dunia internet itu ditentukan sejauh mana kita bermanfaat bagi orang lain. Semakin kita bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang, maka kita akan semakin dipercaya. Kalau dipercaya, maka rezeki akan mudah datang. Buktinya, ya saya sendiri," katanya.
Namun, kata penggagas RT/RW.Net dan WikiBelajar itu, internet juga mengajarkan keburukan yakni pornografi, terorisme, judi, dan sejenisnya. Bahkan, situs porno di dunia saat ini mencapai 10 juta situs dengan satu miliar halaman.
"Untuk menangkalnya tidak mungkin hanya dengan teknologi, karena teknologi juga terbatas. Jadi, kalau ada yang bilang mampu memblokir situs porno, saya kira itu bohong, karena teknologi itu terbatas," katanya.
Bagi Onno yang sudah mengajar TI pada 33 negara berkembang itu, cara terbaik untuk menangkal hal-hal negatif dalam internet seperti pornografi adalah berteknologi, tapi juga beriman dan bertakwa.
Penulis puluhan buku tentang TI itu, menjelaskan, dirinya juga merilis teknik memblokir situs porno dalam WikiBelajar, internet sehat agar tidak mudah tertipu, cara membuat sentra Telkom, Open BTS, perempuan melek TI, dan sebagainya.
"Tapi, teknik sederhana memblokir situs porno itu juga memiliki keterbatasan, karena teknologi pemblokiran yang canggih itu pun terbatas. Yang terbaik adalah menjadi baik dengan internet dan berinternet dengan imtak (iman dan takwa)," katanya. (Ant/X-12)
SUMBER: MEDIAINDONESIA.COM
TEMPAT LES BAHASA INGGRIS SURABAYA
TEMPAT LES BAHASA INGGRIS SURABAYA UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA ADALAH LEMBAGA BIMBINGAN BELAJAR YANG MENAWARKAN JASA LES PRIVAT DAN LES KELAS.
TEMPAT LES BAHASA INGGRIS SURABAYA UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA BERADA DI:
1. JL KEDUNGTARUKAN BARU 4B NO 15
2. JAYA SEDATI REGENCY BLOK L 1A – 1C
TEMPAT LES BAHASA INGGRIS SURABAYA UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA DAPAT DI HUBUNGI MELALUI NO HANDPHONE:
1. FLEKSI : 031 833 14 333
2. MENTARI: 08585 24 555 88
TEMPAT LES BAHASA INGGRIS SURABAYA UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA TELAH BERPENGALAMAN DALAM MENDIDIK SISWA SECARA PRIVAT SELAMA BERTAHUN TAHUN DAN DI JAMIN MEMBERIKAN KUALITAS YANG TERBAIK BAGI SISWA .
TEMPAT LES BAHASA INGGRIS SURABAYA UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA MEMANG UNTUK ANDA.
TEMPAT LES BAHASA INGGRIS SURABAYA UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA BERADA DI:
1. JL KEDUNGTARUKAN BARU 4B NO 15
2. JAYA SEDATI REGENCY BLOK L 1A – 1C
TEMPAT LES BAHASA INGGRIS SURABAYA UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA DAPAT DI HUBUNGI MELALUI NO HANDPHONE:
1. FLEKSI : 031 833 14 333
2. MENTARI: 08585 24 555 88
TEMPAT LES BAHASA INGGRIS SURABAYA UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA TELAH BERPENGALAMAN DALAM MENDIDIK SISWA SECARA PRIVAT SELAMA BERTAHUN TAHUN DAN DI JAMIN MEMBERIKAN KUALITAS YANG TERBAIK BAGI SISWA .
TEMPAT LES BAHASA INGGRIS SURABAYA UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA MEMANG UNTUK ANDA.
TEMPAT LES KOMPUTER SURABAYA
TEMPAT LES KOMPUTER SURABAYA UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA ADALAH LEMBAGA BIMBINGAN BELAJAR YANG MENAWARKAN JASA LES PRIVAT DAN LES KELAS.
TEMPAT LES KOMPUTER SURABAYA UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA BERADA DI:
1. JL KEDUNGTARUKAN BARU 4B NO 15
2. JAYA SEDATI REGENCY BLOK L 1A – 1C
TEMPAT LES KOMPUTER SURABAYA UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA DAPAT DI HUBUNGI MELALUI NO HANDPHONE:
1. FLEKSI : 031 833 14 333
2. MENTARI: 08585 24 555 88
TEMPAT LES KOMPUTER SURABAYA UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA TELAH BERPENGALAMAN DALAM MENDIDIK SISWA SECARA PRIVAT SELAMA BERTAHUN TAHUN DAN DI JAMIN MEMBERIKAN KUALITAS YANG TERBAIK BAGI SISWA .
TEMPAT LES KOMPUTER UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA MEMANG UNTUK ANDA.
TEMPAT LES KOMPUTER SURABAYA UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA BERADA DI:
1. JL KEDUNGTARUKAN BARU 4B NO 15
2. JAYA SEDATI REGENCY BLOK L 1A – 1C
TEMPAT LES KOMPUTER SURABAYA UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA DAPAT DI HUBUNGI MELALUI NO HANDPHONE:
1. FLEKSI : 031 833 14 333
2. MENTARI: 08585 24 555 88
TEMPAT LES KOMPUTER SURABAYA UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA TELAH BERPENGALAMAN DALAM MENDIDIK SISWA SECARA PRIVAT SELAMA BERTAHUN TAHUN DAN DI JAMIN MEMBERIKAN KUALITAS YANG TERBAIK BAGI SISWA .
TEMPAT LES KOMPUTER UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA MEMANG UNTUK ANDA.
TEMPAT LES MATEMATIKA SURABAYA
TEMPAT LES MATEMATIKA SURABAYA UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA ADALAH LEMBAGA BIMBINGAN BELAJAR YANG MENAWARKAN JASA LES PRIVAT DAN LES KELAS.
TEMPAT LES MATEMATIKA SURABAYA UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA BERADA DI:
1. JL KEDUNGTARUKAN BARU 4B NO 15
2. JAYA SEDATI REGENCY BLOK L 1A – 1C
TEMPAT LES MATEMATIKA SURABAYA UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA DAPAT DI HUBUNGI MELALUI NO HANDPHONE:
1. FLEKSI : 031 833 14 333
2. MENTARI: 08585 24 555 88
TEMPAT LES MATEMATIKA SURABAYA UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA TELAH BERPENGALAMAN DALAM MENDIDIK SISWA SECARA PRIVAT SELAMA BERTAHUN TAHUN DAN DI JAMIN MEMBERIKAN KUALITAS YANG TERBAIK BAGI SISWA .
TEMPAT LES MATEMATIKA UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA MEMANG UNTUK ANDA.
TEMPAT LES MATEMATIKA SURABAYA UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA BERADA DI:
1. JL KEDUNGTARUKAN BARU 4B NO 15
2. JAYA SEDATI REGENCY BLOK L 1A – 1C
TEMPAT LES MATEMATIKA SURABAYA UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA DAPAT DI HUBUNGI MELALUI NO HANDPHONE:
1. FLEKSI : 031 833 14 333
2. MENTARI: 08585 24 555 88
TEMPAT LES MATEMATIKA SURABAYA UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA TELAH BERPENGALAMAN DALAM MENDIDIK SISWA SECARA PRIVAT SELAMA BERTAHUN TAHUN DAN DI JAMIN MEMBERIKAN KUALITAS YANG TERBAIK BAGI SISWA .
TEMPAT LES MATEMATIKA UNTUK ANAK TK SD SMP SMA SURABAYA MEMANG UNTUK ANDA.
Langganan:
Postingan (Atom)